gelembung

Kamis, 20 Juni 2013

Pantai Nampu, Mutiara Pasir Putih di Ujung Wonogiri

1361644187307828572

Wonogiri adalah salah satu bekas wilayah eks-Karesidenan Surakarta yang memiliki keindahan dalam panorama alamnya. Segala bentuk keindahan alam dimiliki oleh Wonogiri dari mulai gunung hingga pantai. Dari daratan tinggi hingga bekas daratan bekas lautan ada di Wonogiri.

Pantai Nampu adalah salah satu spot terbaik yang belum bnyak dieksplor oleh para penikmat alam dan pecinta pantai. Pantai yang terletak di Desa Dringo, Kelurahan Gunturharjo, Kecamatan Paranggupito. Jarak tempuh dari kota Wonogiri ke spot sekitar 70 km dan butuh sekitar 2 jam untuk sampai di tempat wisata.

Deburan ombak biru yang beradu keras dengan karang-karang putih menjadi salah satu titik keindahan yang dimiliki pantai ini. Pantai Nampu memiliki sekitar 3 spot pantai yang dipisahkan oleh gundukan daratan hijau. Selain pantai dengan berpasir putih, pantai ini juga menawarkan sebuah keindahan dan kealamian yang belum tercemar oleh polusi. Sebuah maha karya Tuhan di ujung selatan Wonogiri.

Rute perjalanan dapat ditempuh dari Kecamatan Ngadirojo-Kecamatan Baturetno - Giriwoyo - Giri Tontro - Perempatan Giri Belah - Paranggupito. Jika wisatawan ari Surakarta dapat mengambil jalur Kota Wonogiri ke Paranggupito kemudian akan sampai di perempatan Giri Belah dan diteruskan ke Kecamatan paranggupito.

Pantai Nampu yang belum dipegang oleh pemda sampai sekarang masih tetap menjadi tanggungan warga sekitar pantai untuk menuai pendapatan. Pantai yang masih tergolong perawan jika dibanding dengan Pantai Parangtritis, Krakal, Baron, dll ini memiliki potensi wisata yang begitu luar biasa. Jika anda datang pada hari-hari kerja Anda kemungkinan besar akan mendapatkan Pantai Nampu dalam keadaan sepi dan seperti pantai milik sendiri karena pantai ini memang belum begitu dikenal sehingga hanya ramai pada hari-hari tertentu.

Walaupun berada di pelosok yang jauh dari hiruk pikuk kota, namun untuk masalah media transportasi seperti jalan tidak perlu dirisaukan karena jalan sudah sangat baik. Namun para wisatawan harus menggunakan kendaraan pribadi untuk bisa menggapai pantai ini karena belum adanya angkutan yang langsung menuju ke pantai tersebut.

Selama perjalanan Anda akan disuguhkan pemandangan khas batuan kars dan bukit-bukit hijau dengan tumbuhan yang menyejuk hati dan mata. Udara begitu bersih dan menyegarkan menjadi panorama tambahan bagi Anda sebelum Anda mencicipi bibir lautan Selatan milik Wonogiri.

Tiket masuk Pantai hanya Rp. 2000,- dan ditambah dengan uang untuk parkir sebesar Rp. 2000,-. Wooww… sangat murah sekali jika dibandingkan dengan keindahan dan keeksotisan pantai yang akan dapatkan. Di Pantai ini ada bisa berenang namun haruus berhati-hati karena Anda harus ingat pantai ini adalah bagian dari Lautan Selatan yang terkenal dengan ombak yang besar. Selain itu di pantai ini tidak ada petugas penjaga pantai yang mengawasi Anda sehingga paket wisata Anda harus dilengkapi dengan keamanan dan kehati-hatian yang extra.

Soal kuliner jangan Anda risaukan di Pantai ini Anda dapat menikmati es kelapa muda dengan gula dari nira kelapa yang diambil langsung dari pohon sekitar Pantai oleh penduduk setempat. Kalau makan menu utamanya yang tersedia hanya masakan mie. Jadi bagi Anda yang tidak suka makanan mie harus siap-siap masakan sendiri dari rumah.

Bagi Anda yang ingin merasakan keindahan lebih dari pantai ini termasuk sunset dan sunrise Anda bisa camping di bukit-bukit sekitar pantai. Anda dapat menikmati suasana malam hari dengan kerlap-kerlip perahu nelayan yang mencari ikan. Indah tak terperikan.


Jadi bagi Anda yang sekarang masih kebingungan untuk menentukan spot wisata untuk akhir pekan, Pantai Nampu bisa menjadi andalan bagi Anda memuaskan rasa dahaga anda dengan panorama pasir putih di ujung selatan Wonogiri.

correl draw

untuk mengunduh file berikut, klik disini

surakarta

Keraton Surakarta Hadiningrat
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Keraton Surakarta atau lengkapnya dalam bahasa Jawa disebut Karaton Surakarta Hadiningrat adalah istana Kasunanan Surakarta. Keraton ini didirikan oleh Susuhunan Pakubuwono II (Sunan PB II) pada tahun 1744 sebagai pengganti Istana/Keraton Kartasura yang porak-poranda akibat Geger Pecinan 1743. Istana terakhir Kerajaan Mataram didirikan di desa Sala (Solo), sebuah pelabuhan kecil di tepi barat Bengawan (sungai) Beton/Sala. Setelah resmi istana Kerajaan Mataram selesai dibangun, nama desa itu diubah menjadi Surakarta Hadiningrat. Istana ini pula menjadi saksi bisu penyerahan kedaulatan Kerajaan Mataram oleh Sunan PB II kepada VOC pada tahun 1749. Setelah Perjanjian Giyanti tahun 1755, keraton ini kemudian dijadikan istana resmi bagi Kasunanan Surakarta. Kompleks bangunan keraton ini masih berfungsi sebagai tempat tinggal sunan dan rumah tangga istananya yang masih menjalankan tradisi kerajaan hingga saat ini. Keraton ini kini juga merupakan salah satu objek wisata di Kota Solo. Sebagian kompleks keraton merupakan museum yang menyimpan berbagai koleksi milik kasunanan, termasuk berbagai pemberian dari raja-raja Eropa, replika pusaka keraton, dan gamelan. Dari segi bangunannya, keraton ini merupakan salah satu contoh arsitektur istana Jawa tradisional yang terbaik.
Pendopo Keraton pada zaman pemerintahan Susuhunan Pakubuwono X, foto diambil tahun 1910. Koleksi Tropenmuseum, Belanda.
Keraton (Istana) Surakarta merupakan salah satu bangunan yang eksotis di zamannya. Salah satu arsitek istana ini adalah Pangeran Mangkubumi (kelak bergelar Sultan Hamengkubuwono I) yang juga menjadi arsitek utama Keraton Yogyakarta. Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika pola dasar tata ruang kedua keraton tersebut (Yogyakarta dan Surakarta) banyak memiliki persamaan umum. Keraton Surakarta sebagaimana yang dapat disaksikan sekarang ini tidaklah dibangun serentak pada 1744-45, namun dibangun secara bertahap dengan mempertahankan pola dasar tata ruang yang tetap sama dengan awalnya. Pembangunan dan restorasi secara besar-besaran terakhir dilakukan oleh Susuhunan Pakubuwono X (Sunan PB X) yang bertahta 1893-1939. Sebagian besar keraton ini bernuansa warna putih dan biru dengan arsitekrur gaya campuran Jawa-Eropa.
Salah satu ruangan Keraton pada zaman Pakubuwono X, gaya arsitektur jawa dipertahankan dalam bentuk bangunan namun di dalamnya diisi dengan berbagai macam perabotan Eropa, foto diambil tahun 1910. Koleksi Tropenmuseum, Belanda.
Secara umum pembagian keraton meliputi: Kompleks Alun-alun Lor/Utara, Kompleks Sasana Sumewa, Kompleks Sitihinggil Lor/Utara, Kompleks Kamandungan Lor/Utara, Kompleks Sri Manganti, Kompleks Kedhaton, Kompleks Kamagangan, Kompleks Srimanganti Kidul/Selatan (?) dan Kemandungan Kidul/Selatan, serta Kompleks Sitihinggil Kidul dan Alun-alun Kidul. Kompleks keraton ini juga dikelilingi dengan baluwarti, sebuah dinding pertahanan dengan tinggi sekitar tiga sampai lima meter dan tebal sekitar satu meter tanpa anjungan. Dinding ini melingkungi sebuah daerah dengan bentuk persegi panjang. Daerah itu berukuran lebar sekitar lima ratus meter dan panjang sekitar tujuh ratus meter. Kompleks keraton yang berada di dalam dinding adalah dari Kemandungan Lor/Utara sampai Kemandungan Kidul/Selatan. Kedua kompleks Sitihinggil dan Alun-alun tidak dilingkungi tembok pertahanan ini.
Kompleks Alun-alun Lor/Utara [sunting]
Kompleks ini meliputi Gladhag, Pangurakan, Alun-alun utara, dan Masjid Agung Surakarta. Gladhag yang sekarang dikenal dengan perempatan Gladhag di Jalan Slamet Riyadi Surakarta, pada zaman dulu digunakan sebagai tempat mengikat binatang buruan yang ditangkap dari hutan. Alun-alun merupakan tempat diselenggarakannya upacara-upacara kerajaan yang melibatkan rakyat. Selain itu alun-alunmenjadi tempat bertemunya raja dan rakyatnya. Di pinggir alun-alun ditanami sejumlah pohon beringin. Di tengah-tengah alun alun terdapat dua batang pohon beringin (Ficus benjamina; Famili Moraceae) yang diberi pagar. Kedua batang pohon ini disebut Waringin Sengkeran (harifah: beringin yang dikurung) yang diberi nama Dewodaru dan Joyodaru. Di sebelah barat alun-alun utara berdiri Mesjid Ageng (Masjid Raya) Surakarta. Masjid raya ini merupakan masjid resmi kerajaan dan didirikan oleh Susuhunan Pakubuwono III (Sunan PB III) pada tahun 1750 (Kasunanan Surakarta merupakan kerajaan Islam). Bangunan utamanya terdiri dari atas serambi dan masjid induk.
Kompleks Sasana Sumewa dan kompleks Sitihinggil Lor/Utara
Sasana Sumewa merupakan bangunan utama terdepan di Keraton Surakarta. Tempat ini pada zamannya digunakan sebagai tempat untuk menghadap para punggawa (pejabat menengah ke atas) dalam upacara resmi kerajaan. Di kompleks ini terdapat sejumlah meriam diantaranya di beri nama Kyai Pancawura atau Kyai Sapu Jagad. Meriam ini dibuat pada masa pemerintahan Sultan Agung. Di sebelah selatan Sasana Sumewa terdapat kompleks Sitihinggil.
Sitihinggil merupakan suatu kompleks yang dibangun di atas tanah yang lebih tinggi dari sekitarnya. Kompleks ini memiliki dua gerbang, satu disebelah utara yang disebut dengan Kori Wijil dan satu disebelah selatan yang disebut dengan Kori Renteng. Pada tangga Sitihinggil sebelah utara terdapat sebuah batu yang digunakan sebagai tempat pemenggalan kepala Trunajaya yang disebut dengan Selo Pamecat.
Bangunan utama di kompleks Sitihinggil adalah Sasana Sewayana yang digunakan para pembesar dalam menghadiri upacara kerajaan. Selain itu terdapat Bangsal Manguntur Tangkil, tempat tahta Susuhunan, dan Bangsal Witono, tempat persemayaman Pusaka Kebesaran Kerajaan selama berlangsungnya upacara. Bangsal yang terakhir ini memiliki suatu bangunan kecil di tengah-tengahnya yang disebut dengan Krobongan Bale Manguneng, tempat persemayaman pusaka keraton Kangjeng Nyai Setomi, sebuah meriam yang konon dirampas oleh tentara Mataram dari VOC saat menyerbu Batavia. Sisi luar timur-selatan-barat kompleks Sitihinggil merupakan jalan umum yang dapat dilalui oleh masyarakat yang disebut dengan Supit Urang (harfiah=capit udang).
Kompleks Kemandungan Lor/Utara
Kori Kamandungan dilihat dari arah halaman Kemandungan Lor dengan Bale Roto didepannya dan Panggung Sangga Buwana yang menjulang tinggi sebagai latar belakang.
Kori Brajanala (brojonolo) atau Kori Gapit merupakan pintu gerbang masuk utama dari arah utara ke dalam halaman Kemandungan utara. Gerbang ini sekaligus menjadi gerbang cepuri (kompleks dalam istana yang dilingkungi oleh dinding istana yang disebut baluwarti) yang menghubungkan jalan sapit urang dengan halaman dalam istana. Gerbang ini dibangun oleh Susuhunan Paku Buwono III dengan gaya Semar Tinandu. Di sisi kanan dan kiri (barat dan timur) dari Kori Brajanala sebelah dalam terdapat Bangsal Wisomarto tempat jaga pengawal istana. Selain itu di timur gerbang ini terdapat menara lonceng. Di tengah-tengah kompleks ini hanya terdapat halaman kosong. Bangunan yang terdapat dalam kompleks ini hanya di bagian tepi halaman. Dari halaman ini pula dapat dilihat sebuah menara megah yang disebut dengan Panggung Sangga Buwana (Panggung Songgo Buwono) yang terletak di kompleks berikutnya, Kompleks Sri Manganti.
Kompleks Sri
Untuk memasuki kompleks ini dari sisi utara harus melalui sebuah pintu gerbang yang disebut dengan Kori Kamandungan. Di depan sisi kanan dan kiri gerbang yang bernuansa warna biru dan putih ini terdapat dua arca. Di sisi kanan dan kiri pintu besar ini terdapat cermin besar dan diatasnya terdapat suatu hiasan yang terdiri dari senjata dan bendera yang ditengahnya terdapat lambang kerajaan. Hiasan ini disebut dengan Bendero Gulo Klopo. Di halaman Sri Manganti terdapat dua bangunan utama yaitu Bangsal Smarakatha disebelah barat dan Bangsal Marcukundha di sebelah timur.
Pada zamannya Bangsal Smarakatha digunakan untuk menghadap para pegawai menengah ke atas dengan pangkat Bupati Lebet ke atas. Tempat ini pula menjadi tempat penerimaan kenaikan pangkat para pejabat senior. Sekarang tempat ini digunakan untuk latihan menari dan mendalang. Bangsal Marcukundha pada zamannya digunakan untuk menghadap para opsir prajurit, untuk kenaikan pangkat pegawai dan pejabat yunior, serta tempat untuk menjatuhkan vonis hukuman bagi kerabat raja. Sekarang tempat ini untuk menyimpan Krobongan Madirenggo, sebuah tempat untuk upacara sunat/kitan para putra Susuhunan.
Di sisi barat daya Bangsal Marcukundha terdapat sebuah menara bersegi delapan yang disebut dengan Panggung Sangga Buwana. Menara yang memiliki tinggi sekitar tiga puluhan meter ini sebenarnya terletak di dua halaman sekaligus, halaman Sri Manganti dan halaman Kedhaton. Namun demikian pintu utamanya terletak di halaman Kedhaton.
Kompleks Kedhaton
Susuhunan Pakubuwono X (membelakangi kamera) mengucapkan salam perpisahan kepada Sultan Hamengkubuwono VII di halaman Kedhaton, foto diambil ketika Sultan Hamengkubuwono berkunjung ke Solo beserta dengan Putra Mahkota dan Sri Paku Alam antara tahun 1910-30. Koleksi Tropenmuseum, Belanda
Kori Sri Manganti menjadi pintu untuk memasuki kompleks Kedhaton dari utara. Pintu gerbang yang dibangun oleh Susuhunan Pakubuwono IV pada 1792 ini disebut juga dengan Kori Ageng. Bangunan ini memiliki kaitan erat dengan Pangung Sangga Buwana secara filosofis. Pintu yang memiliki gaya Semar Tinandu ini digunakan untuk menunggu tamu-tamu resmi kerajaan. Bagian kanan dan kiri pintu ini memiliki cermin dan sebuah ragam hias diatas pintu. Halaman Kedhaton dialasi dengan pasir hitam dari pantai selatan dan ditumbuhi oleh berbagai pohon langka antara lain 76 batang pohon Sawo Kecik (Manilkara kauki; Famili Sapotaceae). Selain itu halaman ini juga dihiasi dengan patung-patung bergaya eropa. Kompleks ini memiliki bangunan utama diantaranya adalah Sasana Sewaka, nDalem Ageng Prabasuyasa, Sasana Handrawina, dan Panggung Sangga Buwana.
Sasana Sewaka aslinya merupakan bangunan peninggalan pendapa istana Kartasura. Tempat ini pernah mengalami sebuah kebakaran pada tahun 1985. Di bangunan ini pula Susuhunan bertahta dalam upacara-upacara kebesaran kerajaan seperti garebeg dan ulang tahun raja. Di sebelah barat Sasana ini terdapat Sasana Parasdya, sebuah peringgitan. Di sebelah barat Sasana Parasdya terdapat nDalem Ageng Prabasuyasa. Tempat ini merupakan bangunan inti dan terpenting dari seluruh Keraton Surakarta Hadiningrat. Di tempat inilah disemayamkan pusaka-pusaka dan juga tahta raja yang menjadi simbol kerajaan. Di lokasi ini pula seorang raja bersumpah ketika mulai bertahta sebelum upacara pemahkotaan dihadapan khalayak di Sitihinggil utara.
Bangunan berikutnya adalah Sasana Handrawina. Tempat ini digunakan sebagai tempat perjamuan makan resmi kerajaan. Kini bangunan ini biasa digunakan sebagi tempat seminar maupun gala dinner tamu asing yang datang ke kota Solo. Bangunan utama lainnya adalah Panggung Sangga Buwana. Menara ini digunakan sebagai tempat meditasi Susuhunan sekaligus untuk mengawasi benteng VOC/Hindia Belanda yang berada tidak jauh dari istana. Bangunan yang memiliki lima lantai ini juga digunakan untuk melihat posisi bulan untuk menentukan awal suatu bulan. Di puncak atap teratas terdapat ornamen yang melambangkan tahun dibangunnya menara tertua di kota Surakarta.


Bangunan Sasana Sewaka di dalam halaman Kedhaton pada zaman Pakubuwono X, bangunan ini dikelilingi dengan patung-patung bergaya Eropa, foto diambil tahun 1910. Koleksi Tropenmuseum, Belanda.
Sebelah barat kompleks Kedhaton merupakan tempat tertutup bagi masyarakat umum dan terlarang untuk dipublikasikan sehingga tidak banyak yang mengetahui kepastian sesungguhnya. Kawasan ini merupakan tempat tinggal resmi raja dan keluarga kerajaan yang masih digunakan hingga sekarang.
Kompleks-kompleks Magangan, dan Sri Manganti, Kemandungan, serta Sitihinggil Kidul (Selatan)
Kompleks Magangan dahulunya digunakan oleh para calon pegawai kerajaan. Di tempat ini terdapat sebuah pendapa di tengah-tengah halaman. Dua kompleks berikutnya, Sri Manganti Kidul/Selatan dan Kemandungan Kidul/Selatan hanyalah berupa halaman yang digunakan saat upacara pemakaman raja maupun permaisuri. Kompleks terakhir, Sitihinggil kidul termasuk alun-alun kidul, memiliki sebuah bangunan kecil. Kini kompleks ini digunakan untuk memelihara pusaka keraton yang berupa kerbau albino yang disebut dengan Kyai Slamet.
Warisan Budaya
Para tamu agung pada perhelatan ke empat Pisowanan Agung Tingalan Dalem Jumenengan SISKS. Pako Boewono XIII
Selain memiliki kemegahan bangunan Keraton Surakarta juga memiliki suatu warisan budaya yang tak ternilai. Diantarannya adalah upacara-upacara adat, tari-tarian sakral, musik, dan pusaka. Upacara adat yang terkenal adalah upacara Garebeg, upacara Sekaten, dan upacara Malam Satu Suro. Upacara yang berasal dari zaman kerajaan ini hingga sekarang terus dilaksanakan dan merupakan warisan budaya Indonesia yang harus dilindungi.
Garebeg
Upacara Garebeg diselenggarakan tiga kali dalam satu tahun kalender/penanggalan Jawa yaitu pada tanggal dua belas bulan Mulud (bulan ketiga), tanggal satu bulan Sawal (bulan kesepuluh) dan tanggal sepuluh bulan Besar (bulan kedua belas). Pada hari hari tersebut raja mengeluarkan sedekahnya sebagai perwujudan rasa syukur kepada Tuhan atas kemakmuran kerajaan. Sedekah ini, yang disebut dengan Hajad Dalem, berupa pareden/gunungan yang terdiri dari gunungan kakung dan gunungan estri (lelaki dan perempuan).
Gunungan kakung berbentuk seperti kerucut terpancung dengan ujung sebelah atas agak membulat. Sebagian besar gunungan ini terdiri dari sayuran kacang panjang yang berwarna hijau yang dirangkaikan dengan cabai merah, telur itik, dan beberapa perlengkapan makanan kering lainnya. Di sisi kanan dan kirinya dipasangi rangkaian bendera Indonesia dalam ukuran kecil. Gunungan estri berbentuk seperti keranjang bunga yang penuh dengan rangkaian bunga. Sebagian besar disusun dari makanan kering yang terbuat dari beras maupun beras ketan yang berbentuk lingkaran dan runcing. Gunungan ini juga dihiasi bendera Indonesia kecil di sebelah atasnya.
Sekaten
Sekaten merupakan sebuah upacara kerajaan yang dilaksanakan selama tujuh hari. Konon asal-usul upacara ini sejak kerajaan Demak. Upacara ini sebenarnya merupakan sebuah perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad. Menurut cerita rakyat kata Sekaten berasal dari istilah credo dalam agama Islam, Syahadatain. Sekaten dimulai dengan keluarnya dua perangkat Gamelan Sekati, Kyai Gunturmadu dan Kyai Guntursari, dari keraton untuk ditempatkan di depan Masjid Agung Surakarta. Selama enam hari, mulai hari keenam sampai kesebelas bulan Mulud dalam kalender Jawa, kedua perangkat gamelan tersebut dimainkan/dibunyikan (Jw: ditabuh) menandai perayaan sekaten. Akhirnya pada hari ketujuh upacara ditutup dengan keluarnya Gunungan Mulud. Saat ini selain upacara tradisi seperti itu juga diselenggarakan suatu pasar malam yang dimulai sebulan sebelum penyelenggaraan upacara sekaten yang sesungguhnya.
Kirab Mubeng Beteng utawa Malam Satu Suro [sunting]
Malam satu suro dalam masyarakat Jawa adalah suatu perayaan tahun baru menurut kalender Jawa. Malam satu suro jatuh mulai terbenam matahari pada hari terakhir bulan terakhir kalender Jawa (30/29 Besar) sampai terbitnya matahari pada hari pertama bulan pertama tahun berikutnya (1 Suro). Di Keraton Surakarta upacara ini diperingati dengan Kirab Mubeng Beteng (Perarakan Mengelilingi Benteng Keraton). Upacara ini dimulai dari kompleks Kemandungan utara melalui gerbang Brojonolo kemudian mengitari seluruh kawasan keraton dengan arah berkebalikan arah putaran jarum jam dan berakhir di halaman Kemandungan utara. Dalam prosesi ini pusaka keraton menjadi bagian utama dan diposisikan di barisan depan kemudian baru diikuti para pembesar keraton, para pegawai dan akhirnya masyarakat. Suatu yang unik adalah di barisan terdepan ditempatkan pusaka yang berupa sekawanan kerbau albino yang diberi nama Kyai Slamet yang selalu menjadi pusat perhatian masyarakat.
Pusaka (heirloom) dan tari-tarian sakral
Tarian Sakral Bedhoyo Ketawang
Keraton Surakarta memiliki sejumlah koleksi pusaka kerajaan diantaranya berupa singgasana raja, perangkat musik gamelan dan koleksi senjata. Di antara koleksi gamelan adalah Kyai Guntursari dan Kyai Gunturmadu yang hanya dimainkan/dibunyikan pada saat upacara Sekaten. Selain memiliki pusaka keraton Surakarta juga memiliki tari-tarian khas yang hanya dipentaskan pada upacara-upacara tertentu. Sebagai contoh tarian sakral adalah Bedaya Ketawang yang dipentaskan pada saat pemahkotaan raja.
Pemangku Adat Jawa Surakarta 
Semula keraton Surakarta merupakan Lembaga Istana (Imperial House) yang mengurusi raja dan keluarga kerajaan disamping menjadi pusat pemerintahan Kesunanan Surakarta. Setelah Kesunanan Surakarta dinyatakan hapus oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1946, peran keraton Surakarta tidak lebih sebagai Pemangku Adat Jawa khususnya garis/gaya Surakarta. Begitu pula Susuhunan tidak lagi berperan dalam urusan kenegaraan sebagai seorang raja dala artian politik melainkan sebagai Yang Dipertuan Pemangku Tahta Adat, pemimpin informal kebudayaan. Fungsi keraton pun berubah menjadi pelindung dan penjaga identitas budaya Jawa khususnya gaya Surakarta. Walaupun dengan fungsi yang terbatas pada sektor informal namun keraton Surakarta tetap memiliki kharisma tersendiri di lingkungan masyarakat Jawa khususnya di bekas daerah Kesunanan Surakarta. Selain itu keraton Surakarta juga memberikan gelar kebangsawanan kehormatan (honoriscausa) pada mereka yang mempunyai perhatian kepada budaya Jawa khususnya Surakarta disamping mereka yang berhak karena hubungan darah maupun karena posisi mereka sebagai pegawai (abdidalem) keraton.
Filosofi dan Mitologi seputar Keraton
Setiap nama bangunan maupun upacara, bentuk bangunan maupun benda-benda upacara, letak bangunan, begitu juga prosesi suatu upacara dalam keraton memiliki makna atau arti filosofi masing-masing. Namun sungguh disayangkan makna-makna tersebut sudah tidak banyak yang mengetahui dan kurang begitu mendapat perhatian. Beberapa diantaranya akan ditunjukkan dalam paragraf berikut.
Cermin besar di kanan dan kiri Kori Kemadungan mengadung makna introspeksi diri. Nama Kemandungan sendiri berasal dari kata mandung yang memiliki arti berhenti. Nama bangsal Marcukundha berasal dari kata Marcu yang berarti api dan kundho yang berarti wadah/tempat, sehingga Marcukundho melambangkan suatu doa/harapan. Menara Panggung Sangga Buwana adalah simbol Lingga dan Kori Sri Manganti di sebelah baratnya adalah simbol Yoni. Simbol Lingga-Yoni dalam masyarakat Jawa dipercaya sebagai suatu simbol kesuburan. Dalam upacara garebeg dikenal dengan adanya sedekah raja yang berupa gunungan. Gunungan tersebut melambangkan sedekah yang bergunung-gunung.
Selain itu keraton Surakarta juga memiliki mistik dan mitos serta legenda yang berkembang di tengah masyarakat. Seperti makna filosofi yang semakin lenyap, mistik dan mitos serta legenda inipun juga semakin menghilang. Sebagai salah satu contoh adalah kepercayaan sebagian masyarakat dalam memperebutkan gunungan saat garebeg. Mereka mempercayai bagian-bagian gunungan itu dapat mendatangkan tuah berupa keuangan yang baik maupun yang lainnya.
Selain itu ada legenda mengenai usia Nagari Surakarta. Ketika istana selesai dibangun muncul sebuah ramalan bahwa kerajaan Surakarta hanya akan berjaya selama dua ratus tahun. Setelah dua ratus tahun maka kekuasaan raja hanya akan selebar mekarnya sebuah payung (Jw: kari sak megare payung). Legenda inipun seakan mendapat pengesahan dengan kenyataan yang terjadi. Apabila dihitung dari penempatan istana secara resmi pada 1745/6 maka dua ratus tahun kemudian pada 1945 Indonesia merdeka kekuasaan Kesusnanan benar-benar merosot. Setahun kemudian pada 1946 Kesunanan Surakarta benar-benar dihapus dan kekuasaan Susuhunan benar-benar habis dan hanya tinggal atas kerabat dekatnya saja.
Referensi
·         Aart van Beek (1990). Images of Asia: "Life in the Javanese Kraton". Singapore: Oxford University Press. ISBN 979-497-123-5.
·         Periplus Edition Singapore (1997). Periplus Adventure Guide "Java Indonesia". Periplus Singapore.

·         Acara budaya dengan judul Pocung dalam episode Wewangunan Karaton Surakarta Hadiningrat disiarkan oleh JogjaTV [1]
Sawarna Memiliki Panorama Pantai yang Indah
Batu karang besar menjadi obyek foto menarik para pengunjung di Pantai Sawarna
JAKARTA, KOMPAS.com - Sawarna, keindahan alam salah satu desa di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten ini, belakangan menarik minat wisatawan untuk bertandang. Desa Sawarna yang memiliki laut yang berbatasan langsung dengan Samudra Hindia, menawarkan panorama pantai yang indah.
                "Kalau mau lihat sunset di Pulau Manuk. Kalau sunrise di Legon Pari, siangnya sambil berenang air lautnya sepinggang, bersih, wah asyik bener deh," kata Inan, salah satu stan penjaga Sawarna Little Hula-Hula Cottage di "Kompas Travel Mart", Mal Kota Kasablanka, Jakarta, Sabtu (27/4/2013).
                Menurut Inan, jika ingin ke Sawarna, terdapat harga spesial, untuk penginapan 1 malam dan 3 kali makan yakni Rp 180.000 saat weekend dan Rp 160.000 saat weekdays per orang. Adapun dengan minimal rombongan yaitu 4 orang.
                "Paling enak ke sana pas weekend, sepi, tenang, ngapa-ngapain juga enak. Kalau mau langsung booking sekarang (saat pameran) bisa langsung tentuin tanggalnya. Mau kapan saja bisa," katanya.
                Untuk tur di Sawarna sendiri, tambah Inan, terdapat banyak tempat yang bisa dikunjungi, seperti Pantai Legon Pari, Pulau Manuk, Tanjung Layar, Pantai Ciantir, dan Gua Lalai. "Di Gua Lalai itu nanti bisa caving. Nyusurin gua ya, gelap. Tapi sudah disediain alat-alatnya kok," katanya.

                Dalam pameran Kompas Travel Mart 2013 yang diselenggarakan di Mal Kota Kasablanka, 26-28 April 2013, stan Sawarna Little Hula-Hula Cottage berada di zona 3 Main Stage. Inan mengakui, selama pameran, banyak pengunjung yang telah memesan tur wisata ke Sawarna. Kebanyakan mereka memilih untuk pergi di saat akhir pekan.
Curug Jaksa desa Cibereum

Taman Safari Indonesia yang terletak di Cisarua Bogor merupakan tempat hiburan lengkap mulai dari suaka maga satwa, taman hiburan mirip dufan, safari malam, trekking, outbond, teater cowboy, curug, baby zoo, dll. Nah di area dekat parkir D dekat gedung pertunjukan cowboy ada curug yang jaraknya sekitar 300 m. Curug itu disebut Curug Jaksa desa Cibeureum. Untuk menuju ke lokasi dapat dijangkau dengan kereta dengan membayar Rp 10.000,00 PP.
Jalan menuju curug cukup tajam, untungnya hanya 150 m. Selebihnya 150 m lagi jalanan agak menanjak. Agak sedikit membuat capek. Buat yang seneng jalan kaya saya sih oke-oke saja, dengan senang hati bercapek-capek ria demi mendapatkan hadiah terindah dari Allah berupa menikmati segarnya air dan udara di sekitar curug. cukup untuk mengobati mataku yang sering lelah karena sering depan komputer. Tas ransel di punggung tak membuat punggung letih. Bahkan membuatku lebih bersemangat.

sampai di curug, aku memandangi segarnya air curug yang bening, aku duduk di tangga jembatan memandang ke bawah jembatan. Di sana ada aliran ke bawah membuatku termenung akan keindahan aliran air seakan berebut menuju ke bawah. Filosofi yang amat dalam diajarkan oleh air. Mengalirlah ke tempat yang lebih rendah agar kita tak sombong dengan apa yang kita miliki. Seringlah bergaul dengan orang-orang di bawah kita. Belajarlah kehidupan dari orang-orang itu. Akan kita temukan bintang dalam diri mereka. Seringkali ada banyak pelajaran yang bisa kita ambil. Ku bayangkan inilah surga dunia yang di berikan Allah untuk siapa saja. Pastilah surga yang sesungguhnya hanya untuk orang-orang pilihan. Akankah aku di barisan Rasulullah mengantri masuk surga? wah bekalku masih sedikit. Begitu banyak rasa malas dan penundaan yang kerap menguasai jiwaku.
  
Renungan itu sangat menyegarkan jiwa raga. Jalanan keluar curug lumayan tajam dan licin. Butuh ketajaman mata dan dzikir supaya tidak terpeleset. Alhamdulillah aku mendapat pelajaran berharga lagi dari alam. Aku belajar dari air yang tidak sombong. Semoga saja ingatan indah ini jadi moment terbaik untuk bergerak ke arah positif.





Kalo ada waktu kapan-kapan mau ke sini lagi nyobain safari malam ato trekking. Semoga ada saja bisa terwujud
Liburan di Pantai Pasir Putih
Pantai pasir putih 1

                Tujuan liburan saya kali ini adalah Pantai Pasir Putih tepatnya di Desa Tarahan Lampung Selatan. Menurut referensi teman-teman saya Pantai Pasir Putih memiliki keindahan yang tiada tara, pokoknya memukau deh. Naluri penasaran saya tidak sabar ingin menyaksikan sendiri keindahan yang ramai menjadi buah bibir itu.
                Setelah saya sampai di pelataran masuk Pantai Pasir Putih, hembusan udara yang membelai rambut saya seakan mengucapkan selamat datang. Begitu terpesonanya saya seakan tidak percaya dengan bentangan luas pasir berwarna putih, deburan ombak yang menyeru menyuruh saya berenang bersamanya. Pehohonan rindang menjadi pagar alam menambah cantiknya pemandangan.
                Rasanya harga tiket masuk tidak sebanding dengan panorama yang disuguhkan oleh pantai ini yang begitu memukau setiap pasang mata yang tidak mampu lagi berkedip, karena tiket masuk ke pantai ini hanya sekitar Rp 7.000,00 per orang.
                Beberapa kegiatan yang bisa dilakukan di pantai ini seperti berenang, bermain air, membeli souvenir di sepanjang pantai, berkeliling dengan menyewa perahu ke Pulau Condong. Di pantai ini juga kita bisa menyaksikan sinar jingga yang hilang dalam pelatarannya, wah menakjubkan bukan?

                Wajar saja Pantai Pasir Putih mejadi salah satu andalan bagi Pemprov Lampung sebagai tempat wisata yang wajib dikunjungi oleh wisatawan baik asing maupun lokal. Setelah seharian menikmati dan bermain di Pantai Pasir Putih, saya memutuskan untuk menginap di salah satu hotel Lampung untuk meregangkan semua otot, agar besok kembali fit untuk menjelajah tempat-tempat wisata lainnya.

pantai sembukan

Pantai Sembukan – Pantai Indah di Tanah Wonogiri

Pantai Sembukan

Informasi Wisata
Lokasi    Desa Sembukan, Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.
Tiket      Rp.3.000,-
Waktu Buka        07.00 – 18.00
Fasilitas/ Obyek Wisata indahnya pantai sembukan dengan legendanya
Pantai Sembukan berada di kawasan selatan atau pesisir pantai Kabupatan Wonogiri menyimpan banyak hal menarik. Selain keberadaan pegunungan karst, kawasan ini dianugerahi pantai yang cantik. Salah satunya Pantai Sembukan. Berada di ujung Wonogiri, Jateng, Pantai Sembukan akan membuat takjub wisatawan. Tak cuma indah, konon pantai ini menjadi pintu masuk Nyi Roro Kidul menuju Kasunanan Surakarta. Pantai yang terletak di Dusun Sembukan, Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri ini, memiliki nuansa alam yang sangat indah. Jika anda ingin menuju ke pantai ini membutuhkan waktu tempuh sekitar 2 jam dari Kota Wonogiri.
                Pantai Sembukan memang sudah ramai pengunjung, apalagi saat menjelang malam 1 Suro. Malam itu, semua pekerja Keraton Surakarta dan abdi-abdi keraton datang membawa sesajen. Sesajen itu dipersembahkan untuk Sang Penguasa Lautan Kidul. Upacara yang dikenal dengan nama Larung Ageng ini, diadakan oleh Kasunanan Surakarta, Pemkab Wonogiri dan masyarakat sekitar Paranggupito. Acara tersebut digelar untuk menghormati penjaga pantai ini. Jika sudah mengarah ke hal-hal yang berbau mitos maka Anda harus paham dengan aturan-aturan yang berlaku, seperti dilarang mengambil apapun.
                Namun tidak hanya misteri dan mitos yang menjadi daya tarik pantai ini. Panorama dan hamparan karang di pantai ini adalah daya tarik yang begitu mempesona bagi wisatawan. Jangan harap Anda bias berenang di pantai ini. Karena bibir pantai ini didominasi oleh karang-karang kecil yang sangat tajam. Selain itu, deburan ombaknya juga sangat besar. Sehingga pantai ini tidak boleh digunakan untuk berenang. Mengenai fasilitas anda tidak perlu khawatir. pantai ini telah dilengkapi pendapa, parkir, kamar mandi, mushala kecil dan warung tempat pedagang menjajakan makanan

                Jika anda sudah cukup puas menikmati pantai, anda bisa mencoba pemandangan lain dengan mendaki tangga ke sisi kanan, menuju dua gardu pandang. Ada dua gardu pandang di pantai ini, satu berada lebih dekat ke laut, satu lagi lebih ke darat. Gardu pandang yang lebih jauh dari laut biasa digunakan untuk ritual. Sedangkan gardu pandang yang lebih dekat ke laut memberikan pemandangan laut lepas. Jika sedang beruntung, pengunjung bisa melihat badan kapal tongkang yang berlayar nun jauh di laut lepas. Perjalanan ke gardu pandang dari pantai makan waktu sekitar 15 menit.